Death News
January 11th, 2007 by hardinosky
Setiap musibah, tragedi, dan tentu kematian tentulah
–dan semestinya– menyadarkan kita bahwa manusia
adalah makhluk yang sama sekali tidak berdaya, tak
dapat mencegah, bahkan tak mampu menunda apa pun.
Kematian bisa datang lebih cepat sebelum penumpang
Adam Air meneguk jus apel pemberian pramugari. Namun
kematian juga bisa datang bertatih-tatih dan
merangkak. Ratusan penumpang kapal Senopati Nusantara,
melihat kematian datang perlahan. Tidak ada tempat
bagi mereka berlindung, tidak ada tali bagi mereka
bergantung, ketika maut menggapainya di tempat
tersembunyi dan tinggi sekali pun.
Kekuasaan pun tak dapat menolong seorang dari
kematian. Sadam Hussein, betapa gagah mantan Presiden
Irak itu. Seutas tali telah merenggut nyawa dari
tubuhnya –seutas tali yang sangat tidak berarti
apa-apa dibanding popularitas dan pengaruh semasa ia
berkuasa. Kehidupan sesungguhnya adalah tawanan abadi
kematian. Tidak ada alat, uang, kekuasaan, dan harta
yang bisa menebusnya. Tidak juga istri dan anak-anak
tercinta. Manusia hanya menunggu saatnya tiba. Tidak
detik ini, mungkin menit berikutnya. Tidak ketika
tertawa, mungkin ketika tersenyum.
"Dan ketahuilah," tulis Ali bin Abi Thalib dalam surat
wasiat kepada putranya, Al Hasan,
"engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan, bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari dari kematian. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk."
Kematian datang dengan caranya. Dia tak pernah malas
dan lupa menjemput kita, baik ketika berada di udara,
di laut, dan di darat. Ketika naik pesawat maupun
berjalan kaki. Ketika makan, maupun saat berhenti.
Ketika bangun, maupun tidur. Tak ada tempat
bersembunyi, tak ada tawar-menawar. Lalu, ketika
waktunya tiba, mengapa menyesalinya?
Kita sedang dikejar kematian, tak bisa lari, apalagi
bersembunyi.
kolom Resonansi Harian Umum Republika, 3
Januari 2007
Oleh : Asro Kamal Rokan
